MISUNDERSTANDING WITH GOD - 7 - Pikiran Manusia

PIKIRAN MANUSIA

Saya pernah mempelajari Neuro Languistic Programing, yaitu tehnik pemrograman pikiran manusia melalui panca indera, yang biasa disebutkan sebagai sugesti.
Sugesti adalah peristiwa dimana pikiran bahkan tubuh kita terpengaruh oleh sebuah ide atau gagasan. Banyak orang berkonotasi negatif tentang sugesti, padahal sugesti adalah suatu yang sangat alamiah dan bahkan merupakan perangkat penting dalam kehidupan manusia.
Sebagai contoh ketika seorang perokok mendapatkan sugesti bahwa merokok itu sama dengan membunuh orang yang dikasihi, ketika sugesti ini ditempatkan dengan benar dan waktunya tepat, maka hal tersebut bisa tersimpan sebagai “belief system” dalam pikiran bawah sadarnya, dan akan mempengaruhi pikiran sadar dan pola hidupnya. Ada banyak perokok menjadi tidak suka dengan rokok secara instan setelah disugesti dengan tehnik yang benar.

Sekarang saya masuk kepada kerangka yang lebih besar; bagaimana bila seluruh manusia di dunia ini telah tersugesti bahwa mereka berdosa?
Saya pernah mengadakan survey pribadi dari kelas-kelas parenting yang saya adakan, bahwa anak-anak yang lahir di dalam keluarga “miskin” jauh lebih sulit dimotivasi dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga terpelajar. Mengapa saya bandingkan kata miskin dengan terpelajar, karena miskin yang saya maksudkan disini bukanlah masalah finansial, tetapi miskin ideologi, miskin pengetahuan, miskin pemikiran, terutama miskin akhlak. Miskin finansial hanyalah salah satu bentuk manifestasi dari ke 4 miskin diatas.
Ada anak2 orang miskin secara finansial bisa berhasil sampai menjadi sarjana dan menjadi orang terpandang, sementara ada juga anak-anak orang kaya secara finansial di akhir hidupnya justru tidak menjadi apa-apa, bahkan menjadi pembuat keonaran.

Mengapa bisa seperti begitu, karena proses penerimaan data di memori jangka panjang seseorang dimulai sejak usia 7 bulan dalam kandungan, sementara proses pembentukan kualitas otak manusia dimulai sejak usia tiga bulan dalam kandungan.
Sejak usia janin 7 bulan, fungsi pendengarannya sudah cukup baik untuk menangkap suara-suara yang ada di sekelilingnya. Dan suara-suara pertama yang dia dengar ini akan menjadi karakter dasar seorang manusia, karena itu akan tertanam tanpa ada yang menghalangi.

Roma 3:20 mengatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”
Keyakinan bahwa manusia berdosa sejak dari jaman Adam dan Hawa ini terus berlanjut sampai sekarang. Bahkan setelah adanya hukum Taurat pun tidak dapat membebaskan manusia dari pikiran dosa, bahkan manusia semakin mengenal dosa dengan adanya hukum Taurat.
Tahukah anda bahwa pikiran bisa mempengaruhi tubuh? 80% penyakit yang ditemukan dalam hidup manusia berasal dari pikiran. Ketika pikiran berkata bahwa kita berdosa, maka tubuh akan bereaksi. Dan ketika kita mempercayai bahwa kita manusia yang berdosa dari sejak lahir, maka tubuh pun menurut yang pada akhirnya tubuh ini mudah melakukan dosa.
Karena itu Paulus berkata dalam Roma 7:15 “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”

Sangat penting mengetahui apa yang kita dengarkan dan kita pikirkan, karena hal-hal tersebut akan tertanam dalam pikiran bawah sadar kita dan bisa menyebabkan baik itu keberhasilan ataupun kegagalan.

Ketika otak kita terus ditanami paradigma dosa, bahwa manusia berdosa sejak lahirnya, dan setiap sel manusia mengandung unsur dosa, dan hal-hal tersebut sudah masuk ke pikiran bawah sadar kita, maka secara otomatis dosa akan tercermin dalam setiap tingkah laku kita. Bagaimana membersihkan “racun” dosa ini dari dalam pikiran bawah sadar kita, itu yang harus kita pelajari, karena apa yang telah masuk di dalam pikiran bawah sadar tidak bisa dihilangkan begitu saja, karena sudah menjadi “belief system” bagi hidup kita.

Anda dapat melihat gambar bagan berikut untuk mengerti apa yang dilakukan Tuhan di dalam Yesus.


Sebelah atas adalah otak manusia sebelum kita percaya Yesus Kristus, gambar kedua menerangkan apa yang terjadi di dalam otak kita ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Berita dan prinsip kebenaran masuk di dalam otak kita dan semakin banyak prinsip kebenaran masuk dan menjadi “belief system” dalam otak kita, akan menekan otak dosa kita sehingga mandul alias tidak aktif lagi. Karena itu Tuhan meminta kita mendengar dan merenungkan Firman-Nya siang dan malam, karena melalui mendengar kita menambahkan informasi keselamatan dan kebaikan ke dalam otak kita, dan melalui perenungan kita membuatnya menjadi idealisme kita, dan apabila kebenaran itu sudah menjadi idealisme hidup kita, maka seluruh pergerakan kehidupan kita akan menjadi benar.

Pertanyaan saya: Bagaimana caranya kita mengisi berita kebenaran itu kalau tidak ada Yesus? Apakah bisa dengan mengikuti seminar motivasi, mengikuti semua yang agama ajarkan, atau melakukan ritual penyucian?
Seandainya kita “berhasil” melakukan semua ritual penyucian, bagaimana kita bisa suci tanpa kita merasa lebih suci dari orang lain? Bagaimana kita bisa suci ketika setiap hari panca indera kita menangkap signal dosa???
Yesaya 59:1-2 mengatakan: "Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."
Tolong anda jawab pertanyaan saya: “Siapa sesungguhnya yang menyatakan diri kita berdosa?” Apakah Tuhan? Apakah Tuhan bersuara di telinga kita “Hai kamu berdosa!”
TIDAK... jadi siapa yang berkata bahwa kita sudah berdosa?
Jawabannya adalah diri kita sendiri atau pikiran bawah sadar kita, sesuai ukuran kebenaran yang sudah tertanam dalam pikiran kita.
Roma 7:7B mengatakan bahwa oleh hukum Taurat kita telah mengenal dosa. Jadi penerapannya begini, anggaplah kita ada di persimpangan jalan yang tidak ada rambu-rambu lalu-lintas, maka kita bebas menyebarang tanpa takut kena tilang. Namun ketika sudah ada lampu lalu lintas yang mengatur itu, maka apabila kita teruskan menyeberang saat lampu merah, maka kita dikatakan melanggar.

Kalau begitu kita singkirkan saja “keyakinan” kebenaran kita atau rambu-rambu di dalam hidup kita supaya kita tidak dianggap berdosa. Pertanyaannya apakah bisa?
Apakah bisa kita menyingkirkan rambu-rambu kebenaran yang sudah menjadi norma kehidupan manusia untuk mengatur jalannya kehidupan ini agar tidak saling merugikan satu sama lain? Tidak bisa!
Jadi bagaimana kita bisa bertindak benar? Semakin banyak aturan, maka kita akan semakin sulit menjadi orang benar.

Apakah Agama kita bisa membenarkan kita?
Apa itu Agama? Menurut kamus, “Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.”
Disitu ada kata tatanan/perintah, yang artinya adalah ada banyak peraturan di dalamnya, semakin banyak peraturan, maka akan semakin sulit manusia menjadi benar.

Apa yang dilakukan Bapa di dalam Yesus adalah seumpama kita salah telah melanggar rambu-rambu lalu lintas, kemudian kita menabrak seseorang, dan kita ditangkap Polisi, Yesus datang menjamin kita supaya bisa keluar dari penjara. Nah kalau kita sudah tau ada yang menjamin, apakah kita akan terus menerus melanggar rambu? Tidak, sebagai manusia normal kita tidak akan melakukan itu, tapi akan semakin berhati-hati dalam berkendara. Karena apabila kita melakukan kesalahan yang sama saat proses hukum kita belum selesai, maka tidak ada yang bisa menjamin kita lagi.

Demikian juga dalam kehidupan kita, sebagai manusia normal, maka kita akan berusaha untuk mentaati peraturan yang berlaku, namun kadang karena sesuatu hal kita melanggar. Apabila semakin sering kita melanggar, yang dari awalnya tidak sengaja atau terpaksa, semakin lama semakin disengaja, karena otak kita berkata “toh kita ini manusia berdosa, jadi lumrah kalau melanggar!”
Mentalitas seperti ini yang mau dihancurkan oleh Tuhan, yaitu mental orang-orang bodoh dan bebal, yang menganggap diri mereka memang sudah diciptakan berdosa, sehingga lumrah apabila hidupnya berdosa.

Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, adalah sama seperti anak jalanan yang diambil oleh seorang pangeran kemudian disuruh tinggal di Istana. Apakah mentalitas anak jalanan itu langsung hilang? Tentu tidak. Namun asalkan dia mau berubah, mau menuruti apa yang Sang Pangeran katakan dengan terus tinggal di istana, belajar di istana, maka pendengarannya akan berubah, pengelihatannya berubah, apa yang diterima panca inderanya berubah. Dulu dia selalu melihat kemiskinan, hidup yang liar tanpa aturan yang jelas, perkataan yang diterimanya pun perkataan yang kasar dan negatif. Sekarang dia menerima perlakuan yang baik, tidur di tempat yang baik, mendapatkan pendidikan yang baik, seluruh eksistensi kehidupannya berubah menjadi baik, maka tidak butuh waktu lama untuk dia bisa menyesuaikan diri, karena manusia adalah mahluk yang sangat cepat beradaptasi terhadap lingkungan.
Akhirnya pikirannya pun berubah, paradigmanya berubah dan hidupnya pun akhirnya berubah. Ini adalah target Bapa dengan mengirim Putera-Nya yang tunggal Yesus untuk mati di kayu salib; yaitu PERUBAHAN PARADIGMA, dari paradigma dosa menjadi paradigma kebenaran Kerajaan Allah.

Pertanyaannya apakah setelah kita terima Yesus, kita pasti selamat?
Untuk menjawabnya, saya mengajak kita membaca Kisah Para Rasul 4:11-12 “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri –, namun Ia telah menjadi BATU PENJURU. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Batu penjuru adalah batu yang diletakkan sebagai batu awal pondasi sebuah bangunan, yaitu batu yang paling kuat.
Apabila kita hendak membangun rumah, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah memasang pondasi supaya rumah itu tidak mudah roboh. Tanpa pondasi tidak akan bisa membangun rumah.
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka sebenarnya kita sedang meletakkan pondasi bangunan hidup kita. Yang perlu kita ketahui adalah saat kita belum mengenal Yesus, kita tidak bisa membangun sebuah bangunan, hidup kita seperti pengelana yang tinggal di dalam tenda, ketika ada angin ribut, maka hancurlah tenda itu terbawa angin. Apakah agama dapat menjadi pondasi hidup kita? Tidak. Agama hanyalah seperti patok paku yang mematok tenda kita, mungkin bisa mambuat tenda kita bertahan sementara, namun tidak bisa menahan badai.
Apakah pondasi hidup manusia, yaitu “belief system” kita, atau yang biasa disebut Idealisme kita. Ketika Yesus menjadi dasar idealisme kita, maka seluruh pemikiran kita akan berubah, mindset dosa akan berubah manjadi mindset kebenaran. Dan tidak ada satu pun tokoh agama di dunia ini, sekalipun mereka yang mendapatkan julukan nabi yang bisa membuktikan bahwa manusia bisa mencapai kesempurnaannya seperti yang Yesus lakukan. Ketika Yesus berhasil melakukannya, maka pikiran manusia kita akan ikut berkata “SAYA JUGA BISA”.

Peristiwa perjamuan malam terakhir adalah jangkar pikiran yang sangat kuat yang Yesus tanamkan kepada murid-muridNya dan itu diteruskan kepada kita yang percaya. Perkataan Yesus yang paling kuat saat perjamuan malam terakhir adalah “INGATLAH AKAN AKU SETIAP KALI KAMU MAKAN TUBUHKU DAN MINUM DARAHKU”. Dan ketika kita melakukan perjamuan di gereja, maka otak kita akan dibawa mengingat peristiwa kehidupan Yesus sampai kepada kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, kita akan mengingat bahwa hidup kita sudah ditebus oleh Yesus, karena dosa kita sudah ditanggung-Nya.
Pola pikir yang timbul di dalam otak kita adalah sama seperti ketika kita percaya bahwa saat mempersembahkan korban sembelihan dapat menghapus dosa kita, Yesus mensederhanakan perintah itu dengan membuat diri-Nya sebagai korban sembelihan bagi kita.
Sekali lagi saya katakan bahwa tidak ada manusia lain diatas muka bumi ini yang bisa membuat jangkar pikiran dengan begitu kuat seperti yang Bapa lakukan di dalam Yesus!

Nah, celakanya beberapa organisasi gereja dan orang-orang yang mengaku sebagai hamba tuhan membelokkan jangkar sugesti yang sangat kuat ini kepada sesuatu yang sifatnya bukan kekekalan, tapi keduniawian.
Apa yang mereka lakukan adalah menghubungkan perjamuan terakhir Tuhan dengan penyediaan kebutuhan duniawi, kesembuhan sakit penyakit duniawi, kekayaan duniawi, dan lain sebagainya. Dan bukannya semakin memperkokoh jangkar itu kepada satu konteks yaitu SAYA BISA KUDUS SEPERTI YESUS.

Sekarang pertanyaan diatas akan terjawab apakah setelah terima Yesus kita pasti selamat? Jawabannya Ya dan Tidak.
YA – karena saat terima Yesus berarti kita sudah menyadari bahwa kita ini perlu Yesus sebagai batu penjuru kita, tanpa Yesus kita tidak mungkin membangun rumah. Dan ketika pikiran kita tertuju kepada Yesus, maka secara otomatis seluruh eksistensi kehidupan kita akan menuju kepada kehidupan Yesus.
Puji Tuhan, bahwa keselamatan tidak menuntut kita untuk sempurna terlebih dahulu, namun Bapa melihat hati kita yang mau terima Yesus karena kita sadar diri kita berdosa dan tidak bisa menuju kepada kehendak-Nya jika tanpa Yesus.
Ketika kita ada di dalam Yesus, apakah kita dianggap tidak lagi berdosa? Tergantung seberapa besar otak kebenaran kita mengalahkan otak dosa kita.
Seperti yang saya katakan diatas bahwa yang mengatakan kita berdosa adalah diri kita sendiri dengan norma kehidupan yang menjadi tolak ukurnya.

Ada satu aliran atau doktrin yang mengatakan bahwa sekali kita terima Yesus, maka Dia sudah membereskan dosa kita, baik dosa masa lalu, masa kini dan dosa di masa yang akan datang. Jadi ketika kita sudah ada di dalam Yesus, kemudian kita terjatuh dalam dosa, kita tinggal datang dan minta ampun sama Tuhan di dalam Yesus, maka selesailah segala urusan. Banyak gereja menentang ajaran ini, saya pun pada mulanya menentang hal ini. Namun setelah saya renungkan, apa yang disampaikan pengajaran ini memiliki nilai kebenaran. Apa ukurannya kita sudah dibenarkan ketika kita jatuh dan minta ampun. Cukup lama saya merenungkan hal ini, sampai saya disadarkan makna perkataan Rasul Paulus dalam Roma 7:15 di atas. Ketika kita sudah terima Yesus akan ada kesadaran bahwa kita berbuat dosa. Dosa menjadi seperti mahluk asing bagi hidup kita, sehingga ketika kita berdosa, maka alarm kebenaran akan berbunyi menyadarkan kita. Setelah kita terima Yesus dosa menjadi tidak nikmat lagi, karena kita sudah pernah merasakan benar di dalam pembenaran Kristus.

Hal ini diperkuat dengan pengertian kudus yang dimaksud oleh kitab Taurat Ibrani yaitu Kadosh קדוש bukanlah berarti suci alias tidak bernoda. Tapi Kadosh berarti dipisahkan dan kemampuan untuk memisahkan. Ingat dari awal dunia dijadikan, Allah adalah Allah yang selalu melakukan PEMISAHAN; terang-gelap, siang-malam, darat-laut, pria-wanita, dan bila kita mambaca seluruh isi Alkitab kita akan menemukan bahwa pemisahan ini terus dilakukan Allah.
Imamat 19:2 Tuhan mengatakan “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.” Dan Bapa di Surga tahu kita perlu kekuatan untuk menjadi kudus, karena itu Dia mengutus Roh Kudus (Ruach HaKodesh) untuk menolong kita dapat berpikir apa yang benar dan apa yang salah.
Karena itu di dalam Yesus apabila kita jatuh, tidak akan tergeletak, karena kita sudah mampu menyadari kesalahan kita dan minta ampun. Seperti cerita rambu-rambu lalu lintas tadi, ketika kita tahu ada yang menjamin kita, apakah dengan demikian kita akan terus melakukan pelanggaran; tentu tidak. Seperti yang Paulus katakan dalam Galatia 5:13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan di dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kecuali kita tidak waras alias sakit jiwa sehingga kita tidak menyadari tindakan kita.

Mengapa setelah terima Yesus kita masih tidak selamat?
Diatas telah saya kemukakan mengenai alarm kebenaran dalam diri kita setelah terima Yesus. Semakin sering kita mentaati alarm ini, maka suara alarm itu akan semakin keras terdengar saat kita jatuh, namun apabila setiap kali alarm berbunyi kita tidak mengacuhkannya, maka lambat laun otak kebenaran kita akan dapat dikalahkan oleh otak dosa kita. Dan apabila hal itu terjadi, maka akan jauh lebih sulit bagi kita untuk kembali mendengar alarm kebenaran itu dengan jelas, bahkan dibandingkan saat kita belum menerima Roh pembenaran.
Yesus mengatakan perumpamaan dalam Matius 12:43-45, “Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatkannya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam disitu. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaan semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.”
Perumpaman ini menggambarkan bagaimana kondisi kita ketika kita mensia-siakan kasih karunia-Nya dengan kembali kepada kehidupan lama kita dan mengabaikan alarm kebenaran yang Tuhan letakkan dalam hidup kita.
Dalam Matius 12:30-32, “Siapa tidak bersama Aku, ia MELAWAN AKU dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”

Maksud perkataan Yesus ini memiliki makna yang hampir sama dengan Matius 12:43-45 diatas. Ketika kita sudah mengetahui kebenaran dengan langkah awal menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kemudian Dia mengutus Roh Kudus ke dalam kehidupan kita, maka benih kebenaran itu mulai tertanam di dalam kehidupan kita. Dan saat kita mulai tidak mempedulikan Alarm Roh Kudus di dalam diri kita, dapat diartikan kita menghujat Roh Kudus. Dalam kamus kata menghujat artinya mencaci, mencela, memfitnah. Mengapa orang yang menghujat Roh Kudus tidak dapat diselamatkan lagi? Kembali ke atas bahwa yang menyatakan dosa adalah diri kita sendiri dengan batasan norma kebenaran yang berlaku. Ketika kita sudah tahu kebenaran dan kemudian kita berbalik dari kebenaran itu, maka akan timbul kekacauan paradigma dalam otak kita yang akan mengakibatkan paradigma dosa itu kembali bertahta dalam kehidupan kita.

Tapi saya kan tidak mencaci atau mencela Roh Kudus, apalagi menghujat!
Suatu ketika saya disuruh ibu saya membantunya mencuci baju, padahal saat itu saya sedang asyik bermain, karena lama tidak muncul, suara ibu saya semakin keras dengan intonasi yang meninggi. Akhirnya saya dalam hati mengatakan, “Huh bawel amat sih jadi orang tua!” Kalimat yang saya ucapkan dalam hati itu tergolong mencaci dan mencela ibu saya. Coba kita ingat-ingat apa yang kita katakan dalam hati ketika tubuh kita menginginkan dosa namun alarm Roh Kudus bersuara di hati kita; bukankah mirip seperti yang saya ucapkan kepada ibu saya?
Ketika kita menentang suara Roh Kudus, berarti kita sadar bahwa kita sedang melakukan dosa, dan saat kita menyadari bahwa kita sedang berdosa, maka seluruh sel dalam tubuh kita pun ikut menyatakannya. Itu mengapa Yesus katakan tidak dapat diselamatkan di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Bukan hanya di Kerajaan Allah, tapi bahkan masih di dunia yang akan datang, artinya adalah masa depan kita.
Saat kita mengabaikan Roh Kudus sekarang, maka dampaknya akan kita rasakan sampai kepada masa depan kita, bahkan sampai kepada keturunan kita.
Lalu mengapa kalau menentang Anak Manusia kita masih diampuni? Menentang Anak Manusia berarti kita melakukannya tanpa pengertian, kita belum ada di dalam Kristus, namun menentang Roh Kudus adalah menentang setelah kita tahu mengenai kebenaran. Ibrani 10:26, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.”

Bab berikutnya saya akan membahas mengapa Bapa tidak mau kita berdosa, apakah dosa merugikan Surga atau merugikan kita...

NEXT ---> Bagian 8
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god-8-dosa.html

Comments

Popular posts from this blog

PERCERAIAN

MISUNDERSTANDING WITH GOD - 8 - Dosa

KETULUSAN