MISUNDERSTANDING WITH GOD - 8 - Dosa

DOSA

Pada bab ini saya akan membahas mengenai dosa; apa itu dosa, bagaimana kita bisa berdosa, dan mengapa Tuhan tidak mau kita berdosa.
Di dalam kamus dosa berasal dari bahasa Sanskerta: doṣa; adalah suatu istilah yang terutama digunakan dalam konteks agama untuk menjelaskan tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Tuhan atau Wahyu Illahi.
Di dalam kekristenan dosa berarti: Tindakan manusia secara perorangan ataupun secara bersama-sama yang menyimpang dari kehendak dan hukum Allah.
Dari kedua definisi diatas, dapat dikatakan bahwa dosa berkaitan dengan Allah, alias bersalah terhadap Allah dengan melanggar perintah-Nya atau hukum-Nya.
Dalam bahasa Ibrani kata dosa adalah Hamartia yaitu meleset dari sasaran.

Menurut dogma yang berlaku, dosa pertama manusia saat Hawa dimanipulasi ular untuk makan buah pengetahuan. Apakah sebenarnya buah pengetahuan yang baik dan jahat itu?
Sebelum bahasan ini berlanjut, saya akan menginterupsi anda dengan cerita mengenai ular di taman eden, siapa itu ular, dan apakah bentuknya seperti binatang ular yang sekaran, dan apakah yang dimaksud buah terlarang itu bentuknya memang seperti buah-buahan?
Saya akan coba jelaskan satu per satu mulai dari buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kata baik dan jahat di dalam Alkitab adalah sebuah “merism” yaitu perlawanan kata yang sebenarnya memiliki satu makna. Ada banyak merisms di Alkitab, contohnya dalam Mazmur 139:8 antara langit dan dunia orang mati, bukan berarti Tuhan ada di dua tempat, tapi bermakna bahwa Tuhan ada dimana-mana.
Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dapat disimpulkan sebagai Semua Pengetahuan yang ada. Ingat ular berkata kepada Hawa bahwa dia akan menjadi seperti Allah, tahu segala hal. Dan dipertegas pernyataan Allah bahwa manusia telah menjadi sama seperti Dia, tahu segalanya.
Apakah tahu segalanya itu buruk? Ya, karena manusia tidak diciptakan sebagai Maha Kuasa, tetapi hanya Berkuasa. Yang terjadi sekarang adalah kita tahu terlalu banyak dari yang bisa kita hadapi, dan seringkali kita pun menjadi bingung ketika pengetahuan itu datang, apakah ini baik atau buruk.

Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat bisa berarti juga kekacauan; karena ketika baik bercampur jahat, dalam bahasa Ibrani itu disebut תֹהוּ וָבֹהוּ (Tohu va vohu), atau kondisi yang kacau. Kata Tohu va vohu ini muncul pertama kali di kitab Kejadian 1:2, “Bumi belum berbentuk dan kosong..” Maksudnya adalah buminya sudah ada, tapi dalam kondisi kacau balau. Dan Tuhan memisah-misahkan sehingga terjadilah harmonisasi di bumi.
Tuhan tidak menyukai kondisi Tohu va vohu, Beliau suka kepada yang jelas-jelasan saja, kalau tidak terang ya gelap, jangan remang-remang, kalau tidak panas ya dingin, jangan suam-suam. Bahkan dalam Imamat 13:2-13 mengenai penyakit kusta, apabila setengah tubuh yang kusta, maka dinyatakan najis; tetapi (12) “Jikalau kusta itu timbul di mana-mana pada kulit, sehingga menutupi seluruh kulit orang sakit itu, dari kepala sampai kakinya, seberapa dapat dilihat oleh imam, dan kalau menurut pemeriksaannya kusta itu menutupi seluruh tubuh orang itu, maka ia harus dinyatakan tahir oleh imam; ia seluruhnya telah berubah menjadi putih, jadi ia tahir.”
Kondisi yang tercipta dari buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu adalah kondisi yang Tohu va vohu, atau bahasa Inggrisnya DOUBT atau CHAOS.

Siapa Ular di Taman Eden?
Ada pandangan yang mengatakan bahwa sebenarnya ular diciptakan hampir serupa dengan manusia.
Kitab kejadian ditulis oleh Musa, yang dididik dalam kebudayaan dan pengetahuan bangsa mesir dari sejak kecil, dimana budaya mereka seringkali menggunakan kalimat kiasan untuk menggambarkan sesuatu.
Apabila kita pelajari Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa banyak sekali penyamaan karakter antara ular dan iblis, dalam kitab Wahyu disebutkan iblis sebagai ular tua.
Namun ada hal yang cukup kontradiksi dengan ular, yaitu bahwa Musa sesuai Firman Tuhan pernah menggunakan patung ular tembaga untuk menyembuhkan orang Israel yang terpagut ular tedung (cobra) - Bilangan 21:8-9. Mengapa satu mahluk digambarkan hal baik dan jahat? Sekali lagi kita menemukan sebuah kondisi Tohu va vohu (kacau) di dalam diri “ular”.

Dalam budaya Mesir, ular – terutama ular cobra memiliki peranan penting bahkan ular dipakai sebagai bagian dari mahkota Firaun. Ular cobra (Naja Haje) diyakini sebagai penjaga bangsa Mesir. Dan Tuhan mengerti bagaimana berbicara sesuai dengan tingkat pendidikan dan “belief” dari Musa, karena bertahun-tahun Musa diberikan pengertian bagaiaman ular bisa menyembuhkan. Demikian cara Tuhan berbicara adalah sesuai dengan understanding atau sudut pandang kita, untuk kemudian secara perlahan diubah kepada cara pandang Tuhan.
Dan kalau dipikir, memang tidak ada yang salah dengan bintang ular, karena Tuhan juga yang menciptakan mereka. Kalau begitu bagaimana ular di taman Eden?
Bahasa asli dari kata ular di Alkitab adalah Nachas נָחָשׁ. Sebutan Nachas diambil bukan berdasarkan bentuknya, tetapi berdasarkan SUARA DESIS-nya. Yang menarik adalah apa guna dari desisan ular itu: Desis ular adalah untuk menyelamatkan dirinya dengan cara menakuti musuhnya sebelum mereka menyerang.
Alasan ini bagi saya terdengar akrab di telinga, ketika kita sedang membahas iblis. Bahwa sebenarnya iblis trus menerus “mendesis” di kehidupan kita, menjadi pendakwa kita, karena dia sedang mau menyelamatkan dirinya sendiri. Iblis tau kemampuan manusia yang sebenarnya.

Iblis sering di katakan sebagai ular, bahkan di dalam kitab Wahyu disebutkan bahwa dia adalah si ULAR TUA. Dan berdasarkan makna dari kata Arum di atas, yang memiliki kesamaan arti dengan kondisi manusia setelah melanggar larangan Allah yaitu telanjang (tanpa tubuh) dan cerdik (cerdas), maka berani saya katakan bahwa ular di taman Eden adalah representasi malaikat yang telah jatuh dan dibuang Tuhan ke bumi. Itu sebabnya Tuhan tidak perlu menanyai ular seperti Beliau menanyai Adam dan Hawa, karena ya sudah alami bahwa sang pemberontak melakukan pelanggaran, jadi Tuhan langsung mengutuk dia.
Kalau kita perhatikan Tuhan tidak mengutuki manusia, tetapi Beliau mengutuk tanah. Kembali kepada pendapat saya bahwa apa yang dialami manusia pasca jatuh merupakan konsekuensi dari perbuatan, bukan suatu kutukan dari Tuhan.
Mengapa Tuhan membuat Hawa sakit ketika melahirkan, karena Beliau tahu bahwa manusia setelah jatuh harus hidup di dalam TUBUH, yang Tuhan buatkan untuk mereka. Jadi sekali lagi itu bukanlah kutukan atau hukuman, tetapi merupakan konsekuensi atas pelanggaran. Kalau itu merupakan kutukan terhadap manusia, maka sampai sekarang para wanita masih mengalami sakit persalin, tapi kenyataannya dengan teknologi yang semakin maju, bahkan mereka bisa tidak merasakan sakit ketika melahirkan.
Sedikit menyimpang dari konteks Alkitab, mungkin anda pernah mengetahui cerita budaya Indonesia mengenai Jaka Tarub, yang mengambil selendang bidadari dan akhirnya menikah dengan bidadari itu. Saat masih bisa menggunakan kekuatan supranaturalnya, sang bidadari hanya membutuhkan sebulir padi untuk menanak nasi, untuk makan satu keluarga. Namun karena Jaka Tarub tidak mematuhi syarat yang diberikan untuk tidak membuka periuk nasi ketika sedang dimasak, maka akhirnya kekuatan supranatural sang bidadari lenyap dan dia harus menanak nasi seperti manusia biasa dengan bersusah payah. Akhir ceritanya dia menemukan selendang bidadarinya dan kembali ke nirwana, Jaka Tarub ditinggalkannya bersama dengan anaknya.
Kisah ini mirip dengan keadaan ketika manusia masih ada di dalam kemuliaan Allah di Taman Eden. Ketika Allah menciptakan Adam םאָדָ (=pria), adalah sesuai dengan imajinasi Allah dan rupa Allah. Allah itu Roh, tidak mengandung unsur tubuh jasmani; jadi menurut saya manusia pada awal mula diciptakan juga tidak mengandung tubuh jasmani. Pada kitab Kejadian 1:26 kata yang digunakan untuk manusia adalah Adam (bentuk tunggal): waYomer élohiym naáseh ädäm B'tzal'mëKid'mûtëw'yir'Dû vid'gat haYäm ûv'ôf haSHämayim ûvaB'hëmäh ûv'khäl-äretz ûv'khäl-remes romës al-äretz, namun di dalam Kejadian 2:8, kata yang digunakan adalah Haadam (bentuk jamak): waYi‡a y'hwäh élohiym Gan-B'ëden miQedem waYäsem shäm et-ädäm ásher yätzär. Kata haadam ini tidak mengacu kepada pria dan wanita, karena wanita dicintakan jauh dibawah ayat tersebut. Artinya adalah bahwa Allah menciptakan banyak pria di taman Eden. Kalau melihat struktur budaya Allah, maka besar kemungkinannya adalah Allah menciptakan suatu komunitas dimana Adam pertama adalah pemimpinnya. Ketika Allah menciptakan wanita, kata yang digunakan adalah Ishah, bukan Chauah (Hawa): waYiven y'hwäh élohiym et-haTZëlä ásher-läqach min-ädäm l'iSHäh way'vieel-ädäm. Ishah berarti perempuan atau istri. Cauah (Hawa) digunakan setelah proses kejatuhan.
Ketika manusia masih hidup di dunia supranatural, maka mereka berkembang biak secara supranatural, tidak perlu mengandung sembilan bulan.

Kejadian 3:21 Tuhan membuatkan pakaian untuk manusia. Mari kita lihat makna sebenarnya dari ayat ini di dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani, kata “membuat” berasal dari kata עשה (`asah) berati memproduksi, melakukan sesuatu, bekerja, dan merancang.
Sedangkan “pakaian” berasal dari כתנת (kĕthoneth), yang dalam bahasa Ibrani sering digunakan untuk menggambarkan tunic (pakaian yang digunakan dari atas sampai ke mata kaki) atau bisa juga berarti pakaian dalam.
“Dari kulit”, kulit adalah עור (`owr), yaitu kulit manusia, atau lebih tepatnya adalah tubuh secara fisik. Owr juga bisa diterjemahkan sebagai kulit binatang.
Jadi setelah peristiwa kejatuhan, manusia memiliki tubuh jasmani yang memiliki sifat binatang dan segala sesuatu yang bersifat fana.
Setelah manusia memiliki tubuh, mereka disuruh keluar dari taman Eden dan menjaga agar mereka tidak makan dari pohon kehidupan.
Mengapa Tuhan mencegah mereka makan dari pohon kehidupan? Ketika mereka jatuh dan memiliki tubuh yang fana, maka sejak saat itu di dalam diri manusia terjadi kondisi Tohu va vohu yaitu kekacauan, karena bercampurnya sesuatu yang kekal yaitu Roh Allah dan Jiwa, bercampur dengan sesuatu yang fana atau yang bisa mati yaitu tubuh. Tuhan tidak menghendaki kondisi Tohu va vohu ini berlangsung kekal, karena akan sangat menyakitkan bagi manusia hidup dalam kebimbangan kekal.

Sejak saat manusia memiliki tubuh jasmani, maka mulailah timbul yang namanya keraguan di dalam diri manusia. Mereka selalu dihadapkan pada pilihan antara kebenaran yang bersifat kekal dan kesesatan yang bersifat sementara; pilihan untuk mengikuti Allah atau mengikuti napsu binatang mereka.
Dan sejak saat itu pula mata rohani mereka terhalang oleh mata jasmani mereka; manusia kesulitan untuk melihat Bapa Sang Pencipta, karena mata jasmani terlalu kuat menarik kehidupan mereka.
Dalam Matius 6:22-23 Yesus menjelaskan pertentangan di dalam diri manusia dimulai dari “MATA”. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Yesus secara eksplisit menjelaskan mata rohani, kata “baik” di ayat 22 berasal dari kata aslinya bahasa Yunani yaitu Απλους (Aplous) yang artinya simple (sederhana), uncompound (tidak bercampur / tohu va vohu) alias tidak bingung. Ini adalah sifat dari mata rohani ketika Adam dan Hawa hidup di taman Eden.
Sedangkan kata “jahat” di ayat 23 berasal dari kata πονηρος (poniros) yang berarti licik, sakit menunjukan sifat dari mata jasmani setelah kejatuhan manusia.
Jadi ketika kita hidup menggunakan mata jasmani dan tidak menghiraukan mata rohani kita, maka bisa dipastikan bahwa hidup kita ada di dalam kegelapan. Bagaimana seharusnya manusia hidup adalah bahwa mata jasmani kita harus dipimpin oleh mata rohani, sehingga seluruh kehidupan kita menjadi terang.

Dalam surat kepada jemaat di Roma 3:23, Paulus mengatakan bahwa semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Awalnnya saya tidak setuju dengan ayat ini, karena menurut saya Allah tidak mungkin menciptakan dosa dalam diri seorang bayi. Namun setelah mengerti bagaimana sifat “daging” yang digunakan untuk menutup roh dan jiwa manusia, akhirnya saya harus menyetujui ayat ini.
Jadi secara naluri alami, tubuh manusia memiliki kecenderungan untuk bertentangan dengan Firman Tuhan. Itu sebabnya di Roma 7:19 Paulus mengatakan, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Apakah DOSA itu sebenarnya? Dalam bahasa Ibrani, dosa berasal dari kata חָטָא (Chata) yang berarti LUPUT atau tidak mengenai sasaran.
Contohnya seperti pemanah yang tidak mengenai sasaran / targetnya.
Tidak mengenai sasaran? Apa sebenarnya sasaran kehidupan ini?
Imamat 19:1, Tuhan berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.”
Seperti yang sudah saya jelaskan di bab sebelum ini bahwa kudus berasal dari kata קָדוֹשׁ (Qadosh) yang artinya dipisahkan. Jadi sehubungan dengan pertanyaan tentang  SASARAN di atas adalah bahwa hidup kita harus mampu melakukan pemisahan apa yang baik dan tidak baik untuk mampu menjadi tuan atas kehidupan kita, sebagaimana yang Allah perintahkan di kitab Kejadian 1:26 yaitu berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Bagaimana caranya berkuasa atas kedagingan kita yaitu apabila kita hidup dipimpin oleh pengelihatan rohani kita, dan bukan pengelihatan jasmani.

Bagaimana kita bisa hidup dipimpin oleh mata rohani, apabila kita tidak tahu metodenya?
Sebenarnya secara tidak kita sadari, banyak orang yang berkeinginan kembali hidup di taman Eden, dengan segala fasilitas dan kemudahannya, dengan semua kuasa yang diberikan Tuhan, untuk itulah mereka memiliki banyak sekali ritual untuk berhubungan dengan Allahnya.

Pada akhir tahun 2009 saya terlibat di dalam sebuah program yang bisa membuat anak-anak melihat meskipun mata jasmani mereka ditutup. Ya, mereka bahkan bisa membaca Alkitab tanpa menggunakan mata mereka. Awalnya saya cukup penasaran, dan mempelajari tentang hal itu. Rasa penasaran saya adalah karena metode ini ditentang keras oleh gereja, dengan alasan berhubungan dengan ESP (Extra Sensory Persception) dimana bisa menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang supranatural, pembukaan “mata ketiga”, telepati, dan lain sebagainya.
Mendapat petentangan seperti itu, nyali saya pun ciut dan bermaksud menyudahi bisnis tersebut. Saya ingat jelas pada bulan Maret 2010 saya memutuskan bahwa mulai besok saya akan menutup kantor saya, meskipun modal belum kembali.
Ketika saya hendak menyandarkan kepala di bantal, suara Tuhan dengan jelas bertanya di dalam hati saya, “Apa yang kamu tahu tentang mata ketiga?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, saya mulai menjelaskan bahwa itu adalah mata yang bisa berhubungan dengan supranatural, okultisme, dan lain sebagainya.
Kemudian suara itu bertanya lagi, “Mengapa mata ketiga itu bisa terbuka, bagaimana caranya?” Saya menjelaskan bahwa itu adalah mata yang terbuka ketika Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa sehingga mereka tahu bahwa mereka telanjang.
“Apakah kamu pernah membaca atau mendengar bahwa Aku telah menutup kembali mata yang sudah terbuka itu?”
Pertanyaan terakhir ini membuat saya bangun dari tidur (waktu itu sudah jam 11 malam); saya ambil Alkitab dan menyalakan laptop saya untuk berselancar di dunia maya mencari jawaban. Dan saya tidak menemukan satu ayatpun yang mengatakan bahwa Allah pernah menutup mata yang telah terbuka itu. Maka saya menjawab, “Tidak, Engkau tidak pernah menutup mata yang telah terbuka.”
“Kalau Aku tidak pernah menutupnya, dan kamu katakan bahwa anak-anak itu terbuka mata ketiganya sehingga bisa melakukan hal-hal ajaib menurut manusia itu, maka seharusnya kamu juga bisa melakukan seperti yang mereka lakukan!”
Penjelasan itu membuat saya merenung cukup lama dan dalam beberapa hari kemudian saya terus mencoba mencari jawabannya.
Akhirnya saya menemukan bagaimana Adam dan Hawa ketika mereka masih di taman Eden, bahwa mereka tidak menggunakan mata jasmani, karena sesuatu yang jasmani belum menyentuh kehidupan mereka. Mereka hidup di alam rohani (spiritual). Dan ketika mereka hidup di alam spiritual, mata yang mereka gunakan adalah mata rohani/spiritual mereka, yaitu mata yang bisa memandang Allah. Peristiwa kejatuhan membuat mata jasmani mereka mulai terbuka.

Apakah Allah menutup mata rohani mereka? Jawabannya adalah TIDAK! Tapi manusia sendiri yang menutup mata rohani mereka. Mengapa begitu?
Saya akan coba menjelaskan metode yang saya gunakan sehingga anak-anak itu bisa melakukan hal-hal yang ajaib tersebut. Saya terpaksa harus menggunakan beberapa kata ilmiah untuk itu, semoga anda dapat memahaminya dengan baik.
Pertama-tama kondisi mental mereka harus disiapkan, karena dibutuhkan relaxasi yang tinggi untuk dapat melakukannya; apabila otak kita tegang, maka metode ini akan gagal. Bagaimana saya mempersiapkna otak mereka, yaitu dengan membuat mereka berbahagia, senang, melupakan kesedihan mereka dengan mengajak mereka bermain, memperlihatkan video-video lucu dan yang memotivasi, menanamkan pikiran bahwa kebahagiaan akan menuntun kepada kecerdasan mereka. Sesuai yang terdapat di Amsal 17:22, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Hati yang gembira akan memunculkan hormon serotonin (5-hydroxytryptamine), yaitu hormon yang memberikan rasa nyaman dan ketenangan.
Setelah mereka sudah siap, maka dalam posisi tidur, mereka akan di stimulasi dengan menggunakan musik yang saya susun menggunakan frekuensi-frekuensi tertentu untuk menstimulasi sel otak mereka. Tujuannya adalah mengeluarkan hormon spiritual yang ada di salah satu kelenjar otak yang disebut kelenjar Pineal.
Hormon itu bernama Dimethyltryptamin (DMT). Ketika proses stimulasi suara itu maka gendang telinga akan bergetar dan mengirimkan signal berupa impuls listrik. Bagaimana bisa diarahkan bisa menyentuh kelenjar pineal?
Hal ini sangat terkait dengan Matius 6:22 mengenai mata adalah pelita tubuh. Ternyata mata kita merupakan kemudi yang bisa mengarahkan kemana listrik di otak kita mengarah. Itu menjawab pertanyaan saya mengapa sel tubuh kita bertumbuh pada waktu kita tidur, karena saat kita tidur posisi bola mata kita menghadap ke atas (otak) dan ini menstimulasi bukan hanya kelenjar pineal tapi juga kelenjar pituitari yang menghasilkan hormon pertumbuhan (HGH – Human Growth Hormone).
Itu sebabnya Firman Tuhan dalam Mazmur 127:2 mengatakan, “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
Orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan pasti memperhatikan Firman-Nya. Rasul Paulus mengerti akan hal ini, itu sebabnya dia menuliskan kepada jemaat di Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”

Ketika kita tidur tanpa kondisi otak yang relax, hal itu akan mempengaruhi pertumbuhan sel-sel kita, dan menghambat proses regenerasi sel kita. Juga menghambat proses hubungan (saya menyebutnya sebagai mengisi batere) dengan alam Tuhan. Bila kondisi otak kita relax, artinya kita dalam kondisi siap di”isi” oleh Tuhan.

Proses Stimulasi musik akan menyebabkan impuls listrik otak menuju kedua kelenjar tersebut, terutama kelenjar pineal, sehingga akan menghasilkan Melotonin (N-acetyl-5-methoxytryptamine), yang berperan dalam berbagai proses fisiologis seperti ritme biologis, regulasi tekanan darah, retina, sistem kekebalan, meningkatkan rasio enzim antioksidan. Hormon ini akan membersihkan kondisi otak kita, juga setelah itu keluarlah hormon Pinolin (5-methoxytryptoline) yaitu hormon atioksidan kuat yang meningkatkan kadar oksigen di otak, kemudian dilanjutkan keluarnya hormon 5-meO-DMT (5-methoxy-N,N-dimethyltryptamine) dan DMT (dimethyltryptamine), yang dipercaya sebagai hormon supranatural yang bisa menghubungkan manusia kepada alam spiritual.

Hal ini bisa terjadi secara alamiah saat manusia berdoa dengan suara yang memiliki ritme tertentu, secara khusuk, dan dengan kondisi hati yang siap.
Semua agama di dunia memiliki doa yang seperti ini. Contohnya di dalam Hindu dan Budha ada yang disebut mantera AUM, kemudian di Islam ada Zikir, di Katolik ada doa Rosario, dan di Kristen ada Bahasa Roh.
Bagaimana penerapan di kehidupan normal agar kita bisa kembali berhubungan dengan Tuhan, sebagaimana Henokh berhubungan dengan Tuhan? Bagaimana kita bisa mengenal suara-Nya?
Saya akan berikan langkah-langkah sederhana yang bisa anda ikuti, dan ini juga diajarkan oleh Yesus sendiri dalam Markus 11:22-26, Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. "(Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Jadi langkah yang harus kita ambil adalah:
1.     Percaya kepada Allah, hal ini mengandung dua arti, yaitu: Percaya akan eksistensi Allah dan percaya bahwa Allah telah menciptakan kita dengan memberikan kuasa kepada kita untuk menaklukan bumi (percaya diri).
2.     Tidak ada kebimbangan di dalam percaya.
3.     Mengampuni / membereskan kondisi hati kita; hal ini diperlukan supaya sel-sel otak kita menjadi relax, sehingga dapat bekerja secara maksimal.
4.     Berdoa meminta dan berimajinasi. Ketika kita bisa berimajinasi bahwa apa yang kita minta diberikan, membayangkan hal itu betul-betul sudah kita terima, maka kita sedang menciptakan permintaan kita itu .
Berimajinasi juga akan menyangkut perasaan kita, saat kita menerima apa yang kita doakan, tentu perasaan kita bahagia.

Ketika kita mengikuti langkah-langkah diatas, maka doa kita pasti dijawab. Baik untuk lepas dari ikatan dosa, maupun permintaan apapun.

NEXT ---> Bagian 9
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god.html

Comments

Popular posts from this blog

PERCERAIAN

KETULUSAN