PERCERAIAN
PERCERAIAN
Kasus digugatnya Veronica Purnama oleh suaminya karena perselingkuhan begitu mempengaruhi bahasan di masyarakat, terutama kelompok masyarakat yang tidak menyetujui adanya perceraian. Gereja adalah salah satu institusi yang banyak membahas tentang perceraian demi manjaga paradigma umat tetap kepada tulisan di Alkitab yang sudah diyakini kebenarannya oleh pengikut Kristus.
Dari berbagai macam penjelasan tentang perceraian, saya termasuk orang yang satu tahun lalu mempelajarinya berkaitan dengan masalah rumah tangga Ahok.
Firman yang sedang banyak dibahas adalah Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah (porneia), ia akan menjadikan isterinya berzinah (moicaw); dan siapa kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
Kata porneia dalam bahasa Yunani berarti percabulan. Rasul Paulus berkata di 1 Kor 6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.
Sebagai orang yang pernah mendalami Neuro Linguistic Programming, yaitu pengetahuan tentang bagaimana cara pikiran manusia terbentuk dan bekerja di dalam otak kita, saya sangat mengagumi kalimat Rasul Paulus ini karena seolah-olah dia sangat mengerti bagaimana otak manusia bekerja. Mangapa dikatakan bahwa orang yang cabul itu berdosa terhadap dirinya sendiri?
Sebelum menjawabnya, ijinkan saya menjelaskan arti dari porneia. Di Alkitab banyak kata porneia diidentikan dengan penyembahan berhala, dengan kata lain percabulan dengan ilah lain selain dari Tuhan Elohim. Mengapa penyembahan berhala diidentikan dengan percabulan oleh Tuhan. Kalau kita mengacu pada perkataan Rasul Paulus, maka orang yang menyembah berhala juga berdosa terhadap dirinya sendiri; sedangkan percabulan artinya sebuah hubungan yang melibatkan sexual dan dilakukan sebelum adanya perjanjian kesetiaan diantara dua pihak. Termasuk dengan sesama jenis, dengan pelacur, dengan wanita bersuami; dan hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang tanpa landasan cinta. Jadi sifatnya hanyalah pemuas nafsu semata.
Ketika sesorang melakukan percabulan, maka ada 2 hormon yang bekerja; yang pertama adalah Adrenalin, yaitu hormon yang keluar saat kita dalam keadaan terdesak, atau melakukan sesuatu yang menantang; ini adalah hormon yang diberikan Tuhan untuk kita dapat bereaksi memutuskan apakah kita akan bertarung atau lari, hormon ini akan meningkatkan detak jantung, dengan demikian darah akan terpompa lebih cepat ke dalam otot.
Termasuk apabila kita sedang bercabul; karena orang bercabul dihadapkan pada tantangan agar tidak ketahuan orang lain, sembunyi-sembunyi, hal ini akan menimbulkan tantangan yang mengaktifkan adrenalin.
Hormon kedua yang tidak kalah kuat adalah Dopamin; adalah kimia yang dikeluarkan oleh sel otak sebagai reward hormone, yaitu seperti hadiah ketika kita menang pertandingan. Ketika hormon ini keluar kita akan merasakan relax namun begitu bersemangat, merasakan kenikmatan.
Kedua hormon diatas dapat menjadikan kita kecanduan karena sensasi yang dihasilkannya. Ketika seseorang melakukan percabulan, kedua hormon itu keluar, dan semakin sering kita melakukan, maka kita akan kecanduan untuk hormon itu keluar dan keluar lagi memberikan sensasi kenikmatan. Karenanya tidak mudah untuk keluar dari percabulan, sama seperti ketika seseorang kecanduan narkotika. Nah porneia lebih dari sekedar percabulan, namun orang yang sudah terikat dan kecanduan dengan percabulan, artinya dia akan melakukan berulangkali atas nama napsu, bukan cinta.
Rasul Paulus di dalan suratnya 1 Kor 5:4-5 mengatakan bahwa untuk orang-orang yang melakukan porneia disarankan untuk jemaat berdoa menyerahkan kepada iblis agar tubuhnya binasa tapi rohnya bisa diselamatkan, artinya adalah supaya dia ditimpa sakit penyakit sehingga tidak melakukan porneia lagi. Itu adalah gambaran betapa sulitnya seseorang yang sudah terkena porneia untuk bertobat.
Mengapa Yesus bilang boleh menceraikan apabila pasangan kita terkena porneia, karena org yang terjangkit porneia tidak mudah sembuh, bahkan dia akan menjadi hamba percabulan.
Apa bahaya dari porneia? Ketika otak kita sudah terbiasa menerima dopamin dalam jumlah banyak, maka ketika kita tidak menghasilkan hormon tersebut akan terjadi kondisi sakaw atau dalam bahasa kedokteran disebut Withdrawel Syndrome, yaitu kondisi dimana otak "kehausan" dopamin. Kondisi ini dapat bermuara kepada rasa kecewa, merasa tidak berarti, mengasihani diri sendiri, bahkan keinginan untuk bunuh diri.
Mengapa Yesus berkata di Matius 5:28 Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dalam hatinya.
Ini adalah kelemahan sekaligus kekuatan pikiran manusia, kita harus memilih mengarahkan untuk hal baik atau hal buruk. Pikiran manusia tidak bisa membedakan antara Imajinasi dengan Realita. Jadi ketika seseorang menginginkan yang artinya bernapsu membayangkan tidur dengan lawan jenisnya, maka pikiran kita menganggap itu adalah realita, dan ketika imajinasi sudah terbentuk semakin kuat di dalam pikiran, maka realita yang sesungguhnya akan segera terjadi.
Pembaca tentu ingat Yesus pernah mengajar kita meminta kepada Bapa, yaitu membayangkan apa yang kita minta itu sudah kita terima. Pembayangan disini harus disertai perasaan dan rasa percaya kita sudah terima maka hanya tinggal menunggu masa inkubasi iman kita untuk hal itu benar terwujud.
Jadi kalau boleh saya bahasakan Matius 5:32 adalah seperti ini: Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena istrinya itu menjadi hamba percabulan, ia menjadikan istrinya berzinah karena sebenarnya statusnya sebagai istrimu tidak bisa hilang; dan siapa kawin dengan perempuan yang diceraikan artinya dia kawin dengan istri seseorang atau dia kawin dengan seorang hamba percabulan, sehingga dia berbuat zinah.
Sekarang bagaimana bila orang yang berzinah yang menceraikan?
Pertanyaan itu datang kepada saya dari kasus seorang teman, karena istrinya yang selingkuh dengan mantan pacar SMA nya akhirnya menggugat cerai suaminya. Apakah setelah bercerai suaminya kemudian hidup di dalam perzinahan?
Saya bertanya dalam hati apakah seseorang bisa keluar dari hukum kasih karunia ketika dia sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru-Selamatnya; atau hukum kasih karunia itu bisa menguduskan dia dengan sendirinya?
Kitab Ibrani 10 : 26 mengatakan:
Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
Ketika kita memaksakan diri untuk melakukan perselingkuhan itu artinya kita sedang merobek perjanjian keselamatan kita dengan Tuhan, dan kita keluar dari hukum kasih karunia. Apa kata Alkitab terhadap orang yang keluar dari hukum kasih karunia berkaitan dengan pernikahan; mari kita lihat yag Rasul Paulus tulis di dalam 1 Kor 7: 12-16, Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara ber-isterikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus. Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera. Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Bukankah orang yang melakukan ke-tidak benaran disaat dia sudah tau tentang kebenaran adalah sama dengan orang yang tidak beriman???
Yohanes 3 : 16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Ayat ini menggambarkan dengan jelas bahwa hidup yang kekal adalah HANYA untuk orang yang percaya kepada Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus; bukan untuk semua orang.
Jadi Keselamatan DISEDIAKAN GRATIS, bukan DIBERIKAN GRATISAN.
Kata percaya dalam bahasa aslinya berarti BERIMAN. Beriman apa? Beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah, yaitu Tuhan, yaitu Firman Allah yang menjadi manusia. Ketika kita beriman bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita pasti mengikuti apa yang Tuhan kita perintahkan.
Apa hubungannya dengan Perceraian?
Saya akan memberikan analogi sederhana bedanya Porneia dengan Moicaw.
Ceritanya anda bekerja sebagai tukang kebun di rumah seorang Raja. Ketika Sang Raja memerintahkan anda untuk melakukan sesuatu baginya, maka sudah selayaknya anda mentaati perintah itu. Kalau anda memilih untuk tidak mentaati, itu mungkin disebabkan karena:
1. Anda baru saja terjatuh dari tangga dan mengalami gegar otak, sehingga anda menjadi LUPA INGATAN.
2. Anda tidak kenal siapa Sang Raja, karena anda direkrut oleh teman anda dan langsung masuk kerja tanpa pernah melihat tampang sang Raja.
3. Anda tidak mengakui dia sebagai Raja anda, sekalipun anda sudah tau dia itu Rajanya, karena anda sebenarnya menyukai Raja tetangga, dan tidak mau melepaskan kewarganegaraan anda untuk mengabdi kepada Raja baru yang menjadi tuan anda saat ini.
Contoh nomer 1 adalah Moicaw, anda sakit, butuh pertolongan.
Contoh nomer 2 adalah Anda orang yang belum mengenal kebenaran, meskipun anda hidup di lingkungan kebenaran.
Contoh nomer 3 adalah Porneia, anda sudah tau Kebenaran tapi anda masih tidak mau melepaskan dosa.
Kalau pasangan kita JATUH dalam perzinahan, kita justru harus menolong dia, karena kita tidak tau apakah itu moicaw atau porneia. Namun jika setelah kita tolong dan dia tetap senang dengan kejatuhannya, malah dengan sengaja menjatuhkan diri meskipun dia tau apa yang dilakukannya adalah dosa, kita tetap harus menolong dia, karena kemungkinan itu efek sakaw. Tapi ketika dia sudah MEMUTUSKAN untuk MEMILIH terus hidup dalam dosanya dan kemudian menggugat bercerai, maka dia memilih untuk hidup dalam Porneia seterusnya, dan memutuskan untuk tidak lagi percaya Kebenaran Tuhan.
Pak, bagaimana kalau saya sudah menikah di dalam Tuhan kemudian suami saya bertahun-tahun melakukan KDRT, bolehkah saya menceraikan dia?
Jawabannya adalah: TIDAK
Bapak gak ngerti sih rasanya digebukin tiap hari!
Tuhan sudah memiliki cara untuk melindungi anak-anakNya. Mari kita baca Roma 13:1-2, Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
Solusinya adalah: LAPORKAN KE POLISI!
Karena hal tersebut sudah diatur di dalam UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA.
Bahkan untuk perselingkuhan saat ini ada hukum yang mengaturnya, yaitu Pasal 284 KUHP:
Pasal ini selengkapnya berbunyi: "Dihukum penjara selama-lamanya sembilan bulan:
1. a. laki-laki yang beristri sedang diketahuinya bahwa pasal 27 KUHPerdata (sipil) berlaku padanya; b. perempuan bersuami berbuat zina;
2. a. laki-laki yang turut melakukan perbuatan itu sedang diketahuinya bahwa kawannya itu bersuami; b. perempuan yang tiada bersuami yang turut melakukan perbuatan itu sedang diketahuinya bahwa kawannya itu beristri dan pasal 27 KUHPerdata (sipil) berlaku pada kawannya itu;
3. Penentuan hanya dilakukan atas pengaduan suami-istri yang mendapat malu dan jika pada suami (istri) itu berlaku pasal 27 KUHPerdata (sipil), dalam tempo 3 bulan pengaduan itu akan diikuti dengan permintaan akan bercerai atau bercerai tempat tidur dan meja makan (scheiding van tafel en bed / pisah ranjang atau pisah rumah) oleh perbuatan itu juga.
4. Pengaduan ini boleh dicabut selama pemeriksaan di muka sidang pengadilan belum dimulai.
5. Kalau bagi suami dan istri itu berlaku pasal 27 KHUPerdata (sipil) maka pengaduan itu tidak diindahkan sebelum mereka itu bercerai atau sebelum keputusan hakim tentang perceraian tempat tidur dan meja makan (pisah ranjang atau pisah rumah) mendapat ketetapan.Â
Kesimpulan:
Suatu ketika Tuhan bertanya kepada saya,"Menurut kamu orang yang berselingkuh itu sakit atau sehat?"
Saya menjawab, "Sakit Tuhan." Tuhan tanya lagi, "Sakit apa?"
"Sakit mental" demikian saya menjawabnya.
Saat saya menjawab itu tiba-tiba saya teringat akan janji nikah yang saya ucapkan di hadapan Tuhan, Hamba Tuhan, dan Jemaat Tuhan. Salah satu kalimatnya berbunyi "Saya akan setia baik sehat ataupun sakit ... sampai maut memisahkan kita"
Ketika pasangan kita selingkuh, artinya dia sedang sakit mental, dia tidak tahu apa yang dia perbuat, alias dia tidak menyadari konsekuensi yang akan dia terima sebagai akibat dari perselingkuhannya itu. BIsa jadi dia melakukan itu karena sakit hati terhadap pasangannya yang tidak bisa mengerti dirinya, atau dia melakukan itu karena terjebak suasana.
Artinya sama dengan ketika pasangan kita menderita sakit kanker, atau lupa ingatan... Apakah kita mau menginggalkannya?
Masalah dalam rumah tangga, terutama hubungan suami istri tidak bisa dilihat dari satu sisi koin, karena pasti melibatkan kedua pihak, suami-istri.
Kunci dari kesembuhan hubungan di dalam Rumah Tangga ada di Yakobus 5:16, Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Semoga apa yang saya paparkan melalui tulisan ini dapat menjadi berkat bagi para pembaca sekalian. Terima kasi, Tuhan Yesus memberkati.
Comments
Post a Comment