MISUNDERSTANDING WITH GOD - 3 - Adam & Hawa
Adam & Hawa
Ketika Allah menciptakan manusia pertama Dia memerintahkan Adam untuk tidak makan buah yang berada di tengah taman, yaitu buah pengetahuan baik dan jahat, atau bila dikenan saya mengebutnya sebagai buah keraguan. Dan saat memberi perintah itu, Tuhan tidak pernah bicara tentang hukuman, tetapi konsekuensi atas perbuatan. Kematian terjadi atas perbuatan, bukan karena hukuman. Contoh adalah ketika kita melanggar aturan lalu lintas dan akhirnya kita tertabrak sehingga meninggal itu adalah kematian yang terjadi atas konsekuensi dari pelanggaran. Apabila kematian terjadi atas hukuman, maka contohnya ketika kita melanggar aturan lalu lintas, kita tertabrak namun tidak mati, nah karena kita melanggar, dibawa ke kantor polisi dan disana kita ditembak mati karena melanggar aturan. Jadi bedanya sangat jauh.
Yang dikatakan Allah kepada Adam dan Hawa adalah ketika kamu memakannya maka kamu akan mati, konsekuensi atas perbuatan. Bila kita baca perintah Allah ini dari kacamata seorang Bapa, maka akan berbunyi seperti ini, “Nak, kamu boleh bermain apa saja di dalam kamar ini, tapi kamu jangan lompat dari jendela, karena nanti bisa jatuh dan mati.”
Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, seketika itu juga konsekuensi terjadi yaitu kematian, dan Allah mengetahuinya, sehingga Allah langsung datang menemui Adam dan Hawa, dan Allah mencegah mereka memakan buah kehidupan.
Apakah Allah marah? Sebelum menjawabnya, saya akan menjelaskan mengenai suatu hal terlebih dahulu. Di atas kita telah sepakat mengatakan bahwa Allah itu Maha Mengetahui, artinya anda pun sepakat mengatakan bahwa Allah tahu Adam dan Hawa akan makan buah terlarang itu. Ketika Allah tahu bahwa Adam dan Hawa akan makan buah terlarang itu, maka ketika menemui Adam dan Hawa, Allah sebenarnya hanya mengkonfirmasi ketidak-taatan Adam dan Hawa.
Dan hal yang kita sebut hukuman sebenarnya adalah penjelasan kondisi yang akan terjadi di alam kematian (alam fana). Ingat bahwa Alkitab ditulis oleh manusia sesuai dengan tingkat pengenalannya tentang Allah. Yang sangat ajaib adalah dengan tingkat pengenalan yang beragam itu Alkitab menjadi sebuah buku dengan alur yang sangat konsisten, bila di depan bicara A, maka di tengah juga bicara A dan di belakang pun bicara A. Hal itu adalah karena Inspiratornya hanya satu yaitu Allah sendiri.
Kembali kepada pertanyaan apakah Allah marah atas ketidak-taatan Adam? Bagaimana Allah bisa marah saat Dia sudah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, bahkan kapan hal itu akan terjadi pun Allah tahu. Lalu mengapa Allah membiarkan hal itu terjadi?
Untuk menjawabnya saya ajak anda kembali ke Kejadian 1:26 saat pertama kali Allah menciptakan Adam, dikatakan bahwa Adam se-Gambar dan se-Rupa dengan Allah, artinya segala sifat Allah sudah diberikan kepada manusia, bahkan Allah menghembuskan Nephesh (נֶפֶש - Roh Allah) agar manusia itu bisa hidup.
Salah satu ciri manusia adalah memiliki kehendak bebas “free will”. Allah tidak mau manusia itu seperti robot, yang patuh karena telah diprogram untuk itu, bukan dari keinginan diri sendiri.
Ketika Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya, hal itu berarti Allah mau mengadakan hubungan dengan manusia, bercengkerama dengan manusia, bersahabat dengan manusia, bukan sebagai boss dan bawahan, namun sebagai sebuah keluarga.
Sama seperti saat kita mencintai seseorang, kita mau dia mencintai kita dengan tulus, tanpa paksaan, cinta dan hubungan bukanlah sebuah hukum yang harus dilaksanakan dengan terpaksa.
Suatu hubungan harus dimulai dari perkenalan, kemudian pertemanan, meningkat kepada persahabatan dan yang paling tinggi adalah pernikahan.
Saat Adam dan Hawa diciptakan, Allah hanya memberikan perintah-Nya sebagai Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Namun keinginan Allah lebih daripada itu, Dia ingin bercengkerama dengan manusia, ingin memiliki hubungan cinta dengan manusia. Karena Allah telah begitu mencintai manusia dan Allah ingin manusia mencintai Diri-Nya dengan sukarela, tanpa paksaan, tanpa perintah, namun keluar dari hati dan dari keputusan free-will manusia, suatu keinginan untuk mencintai Allah, Ulangan 6:5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Untuk itu perlu proses yang cukup panjang. Allah sangat mengetahui konsekuensi yang harus di alami demi terbinanya hubungan yang intim dengan manusia ciptaan-Nya.
Allah tahu keinginan-Nya dicintai oleh manusia akan membawa manusia itu bahkan salah paham dengan maksud Allah.
Manusia menggambarkan Allah sebagai suatu sosok yang sangat sulit dijangkau, tidak mungkin didekati dan harus ditakuti, karena Allah bisa menjadi murka dengan manusia, murka karena manusia lebih mencintai dosa dibandingkan dengan Diri-Nya.
Pertanyaan saya adalah bagaimana Allah bisa murka saat Dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi, bahwa manusia akan berdosa???
Ketika iman Ayub diuji, Allah tahu Ayub akan meragukan kasih setia-Nya; namun akhirnya Ayub bisa mencintai Allahnya dengan pengertian yang benar.
Saya kembali kepada cerita “kejatuhan” Adam dan Hawa, karena banyak pandangan mengatakan bahwa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan Allah mengusir mereka dari Taman Eden. Pengajaran ini membentuk gambaran tentang Allah yang menetapkan aturan dan hukuman atas pelanggarnya. Allah yang akhirnya akan ditakuti dan bukan dikasihi. Gambaran Allah yang tidak adil. Ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh para kaum atheis, “Mengapa Allah membiarkan Adam dan Hawa jatuh dalam dosa seandainya Allah Maha Tahu.” Begitu rusaknya gambaran Allah sehingga mereka menganggap bahwa keberadaan Allah hanyalah konsep yang diciptakan manusia belaka.
Kisah Adam dan Hawa memiliki alur cerita yang mirip dengan kisah Ayub. Keduanya berangkat dari “pengenalan” semu tentang Allah. Keduanya pernah mengalami frustasi, keduanya pernah salah mendidik anak-anak mereka, keduanya pun pernah kehilangan anak yang mereka kasihi.
Dan keduanya memiliki pengalaman pengenalan lebih dalam dengan Allah.
Bagaimana saya tahu Adam mengalami pengenalan mendalam dengan Allah, yaitu ketika ada satu anggota keluarga-Nya menemukan Allah yang pada akhirnya dia diangkat oleh Allah... Ya, dia adalah Henokh. Henokh tidak dapat mengenal Allah apabila tidak ada orang yang memberitakan mengenai Allah kepada-Nya, dan orang yang paling tepat untuk itu adalah Adam. Henokh tidak mungkin tertarik dengan cerita tentang Allah apabila Adam tidak menunjukkan sikap dan gambaran tentang Allah. Dan Henokh bisa memiliki sikap hati seperti itu karena Adam mulai bertobat dari kemarahannya terhadap diri sendiri dan terhadap Hawa, meskipun hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
Mari kita lihat apa yang terjadi ketika Allah telah menemukan apa yang diinginkan-Nya pada diri manusia. Hanya 3 keturunan sampai kepada Nuh. Setelah ada Nuh, Allah menyingkirkan semua manusia lain yang ada di muka bumi. Mengapa demikian? Karena hanya Nuhlah yang merupakan manusia murni seperti yang diciptakan Allah mula-mula, sementara yang lain adalah manusia campuran. Sampai disini saya tidak melihat bahwa Allah berbuat yang jahat terhadap manusia, bahwa Dia menyelamatkan manusia, yang waktu itu sudah sangat langka keberadaannya dari ancaman mahluk setengah manusia.
Allah berfirman kepada Nuh untuk membuat bahtera. Perintah itu datang ketika Nuh berumur 480 tahun. Jadi Nuh diberikan waktu 120 tahun untuk memberitahukan manusia bahwa dalam 120 tahun lagi, Allah akan mendatangkan air bah untuk membinasakan umat manusia. Untuk itu Nuh diminta membangun bahtera.
NEXT ---> Bagian 4
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god-4-pelajaran.html
NEXT ---> Bagian 4
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god-4-pelajaran.html
Comments
Post a Comment