MISUNDERSTANDING WITH GOD - 10 - Tuhan Menjawab Doa
TUHAN MENJAWAB DOA
Kata DOA sudah terlalu sering kita dengar, dan waktu kita ditanya apakah arti dari doa, biasanya jawabannya adalah bentuk komunikasi dengan Allah, atau prosedur pengajuan permohan kepada Sang Pencipta.
Waktu ditanya bagaimana caranya minta pada Allah? Atau apakah betul Allah mengabulkan permohonan kita? Benak saya langsung membayangkan setumpuk kertas proposal yang kita sodorkan kepada investor untuk dapat sesegera mungkin disetujui. Namun hampir pasti jawaban yang kita dapatkan adalah “kami akan pelajari, nanti kami beritahu hasilnya.”
Saya pernah mengajukan proposal pendirian suatu usaha kepada seorang investor, dan jawabannya persis sama seperti yang selalu dijawab oleh investor lainnya…TUNGGU DIPELAJARI. Entah mengapa waktu itu keinginan saya begitu kuat dan argumen saya begitu meyakinkan, dan itu bukan hanya timbul dari pikiran logika namun dari dalam hati disertai antusiasme dan keyakinan akan keberhasilan perusahaan yang akan saya bangun. Singkat cerita pada pertemuan kedua (saya yang minta bertemu) akhirnya beliau menyetujui proposal saya dan diberikan modal kerja. Beberapa tahun kemudian saya kembali mengajukan proposal pada investor yang berbeda, hanya kali itu sikap saya juga berbeda, saya menyampaikan ide tanpa adanya ideologi dan keyakinan dari hati saya, ya just an idea, kalau diterima syukur, kalo tidak ya tidak apa apa. Hasilnya seperti yang sudah kita duga…DITOLAK.
Setelah saya renungkan, bahwa ternyata diterima atau tidaknya proposal saya bukan tergantung dari inisiatif investor, tapi bisa dikatakan seratus persen tergantung inisiatif dan keyakinan saya. Yesus pernah mengajarkan pada kita caranya berdoa memohon sesuatu, dan di tulisan kali ini akan saya bagikan seperti apa mekanisme meminta supaya dikabulkan oleh Tuhan.
Hampir semua pengajaran mengatakan bahwa Tuhan menjawab doa dengan 3 jawaban: Tidak, Tunggu, dan Ya. Pertanyaan saya apakah benar ketiga jawaban itu merupakan jawaban Tuhan? Saya belum pernah membaca satu ayat pun di Alkitab bahwa Tuhan akan memilih satu dari tiga jawaban tersebut.
Kemudian saya teringat bagaimana saat anak saya meminta sesuatu kepada saya. Sebagai seorang ayah yang punya cukup kemampuan untuk memberikan apa yang anak saya minta, saya selalu bertanya: Untuk apa barang itu? Apakah itu penting buat dia? Dan apakah waktunya harus sekarang? Nah kalau jawabannya cukup meyakinkan saya untuk memberi permintaan itu sekarang juga, maka hal itu akan saya lakukan. Namun adakalanya mereka tidak begitu yakin, bahkan tidak jarang akhirnya mereka sendiri yang membatalkan permintaan tersebut.
Nah bagaimana Yesus mengajar kita meminta kepada Bapa.
1. Yohanes 15:7
1. Matius 7:7-11. ini merupakan kunci utama saat kita mau meminta
2. Markus 11:25-26, mengampuni
3. Markus 11:22, percaya kepada Allah dan tidak bimbang
4. Markus 11:23-24, percaya sudah menerima.
Saya akan coba menjelaskannya dengan metoda terbalik. Kita tahu bahwa iblis adalah copy-cat yang cukup cerdik. Dia tahu potensi manusia yang sesungguhnya, dan dia memanfaatkannya untuk manusia berbuat dosa. Matius 5:27-28 Yesus katakan kalau ada pria yang memandang perempuan dan menginginkannya, dia sudah berzinah dalam hatinya. Ayat ini menjelaskan pada saya mengapa seringkali seseorang yang ditangkap karena memperkosa atau bertindak asusila, mereka menjelaskan bahwa hal itu dilakukan setelah mereka menonton film pornografi. Ternyata iblis tahu potensi sekaligus kelemahan manusia. Melihat pornografi pasti melibatkan perasaan dan imajinasi; disaat perasaan dan imajinasi tersebut bersatu dan ditambahkan keinginan melakukannya, maka sebenarnya kita sudah menciptakan suatu perbuatan yang sama seperti imajinasi kita, dan itu pasti terjadi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya, dan iblis selalu menyediakan waktu yang tepat untuk itu.
Empat langkah agar permintaan kita terjadi:
· Matius 7:7-11, Yesus berkata,”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik s kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Firman Tuhan itu merupakan kepastian atas jawaban sebuah permintaan, bukan sebuah kiasan atau pengandaian. Tuhan tidak pernah berkata,”Mintalah, maka kalau waktunya sudah pas akan diberikan padamu; carilah, maka kalau sudah sampai kepada waktu-Ku kamu akan mendapat; ketoklah, maka saat kamu sudah betul betul perlu pintu akan dibukakan bagimu.” Kalau Tuhan saja memberikan kepastian, mengapa manusia merubahnya menjadi jawaban ada tiga: YA, TUNGGU, atau TIDAK???
Jadi langkah pertama ini kita harus betul betul yakin dan percaya bahwa Bapa pasti mengabulkan permohonan kita. Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita percaya terhadap Bapa kalau kita belum kenal dengan Beliau? Oleh sebab itu sebelum melakukan langkah ini kita harus mengenai siapa Bapa itu!
· Langkah yang kedua adalah mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Markus 11:25-26 “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.) Kondisi mengampuni diperlukan untuk tidak terjadinya interferensi dalam kita berimajinasi. Apa itu interferensi? Wikipedia menuliskan: Interferensi adalah interaksi antar gelombang di dalam suatu daerah. Interferensi dapat bersifat membangun dan merusak. Bersifat membangun jika beda fase kedua gelombang sama dengan nol, sehingga gelombang baru yang terbentuk adalah penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak jika beda fasenya adalah 180 derajat, sehingga kedua gelombang saling menghilangkan.
Antara permohonan dan kepahitan berbeda seratus delapan puluh derajat. Oleh karena itu harus diselaraskan dulu sebelum kita memohon. Hal ini berhubungan dengan saat kita akan melakukan Imajinasi atas permohonan kita, karena saat kita kepahitan maka kita tidak bisa melakukan pembayangan dengan mulus. Ayat Markus 11:25-26 tersebut merupakan pemberitahuan bagaimana mempersiapkan sikap hati yang benar sebelum kita memohon kepada Bapa.
· Setelah kita melalui 2 tahapan diatas, Tuhan menegaskan mengenai tahapan selanjutnya yaitu IMAN. Apakah Iman itu sebenarnya? Iman adalah kepercayaan manusia kepada Tuhan dan seluruh eksistensi-Nya tanpa bisa dipengaruhi oleh keadaan. Jadi baik keadaan senang atau susah, kepercayaan kita akan eksistensi Allah adalah tetap, mutlak dan absolut.
Ibrani 11:1 menjelaskan fungsi dari Iman adalah sebagai jaminan “Iman adalah jaminan dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Apa sebenarnya pengharapan kita? Apakah kita hanya berharap kehidupan yang makmur di dalam dunia ini, atau kehidupan yang selalu dipandang orang, dihormati orang? Lalu apa yang terjadi dengan kehidupan kita di dalam kekekalan? Kehidupan manusia di dunia ini hanya 70 – 80 tahun, mungkin ada sebagian kecil orang yang bisa mencapai 120 tahun. Lalu kehidupan setelah kematian adalah kekekalan.
Pertanyaan saya adalah: Apa yang akan terjadi dengan kehidupan kekekalan kita, saya dan anda semua?
Itu sebabnya Yesus berikan kunci untuk permintaan kita dikabulkan Bapa di Sorga; yaitu di Yohanes 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Banyak orang hanya fokus kepada kalimat ...”mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, tanpa mau memperdalam kalimat sebelumnya.
Mari ijinkan saya imajinasikan kepada anda apa yang Yesus maksudkan.
Bayangkan anda adalah seorang gelandangan (tuna wisma). Kemudian ada seorang raja yang menghampiri anda dan menawarkan anda untuk tinggal di istananya dan anda menyetujui. Sesampainya di istana, raja itu berkata kepada anda,”Kamu boleh minta apa saja kepada para pembantu kerajaan saat kamu tinggal di istana saya dan telah mematuhi semua peraturan yang saya tetapkan di istana ini, serta hidup sebagai orang istana.” Anda kemudian bertanya: “Minta apa saja raja? Bagaimana kalau saya minta pesawat terbang?”
Raja itu menjawab, “Jangankan pesawat terbang, pabriknya pun saya bisa berikan untuk kamu.” Wow wow wow, luar biasa sekali.
Saat anda bangun tidur di keesokan harinya, karena terbiasa hidup di jalanan, maka anda bangun jam 12 siang, maklum ranjangnya super empuk. Waktu anda bangun, anda teriak kepada pengurus istana, “Pelayaaaan, saya hari ini minta uang 10 milyar, karena akan belanja pakaian dan mobil.”
Para pelayan itu berkata, “Maaf tuan, permintaan yang tuan katakan belum bisa dikabulkan.”
“Apaaaaaa??? Kalian tidak dengar perkataan raja kemarin, bahwa saya boleh minta apa saja yang saya inginkan!” Anda teriak agak marah.
“Kami mendengarnya tuan, tapi sebelum permintaan itu dikabulkan, tuan harus memenuhi setiap peraturan yang ditetapkan dan hidup seperti orang istana.” Kata salah seorang pelayan.
Sampai disini saya yakin anda sudah mengerti pengertian dari Yohanes 15:7
· Langkah terakhir adalah imajinasi. Allah menciptakan manusia melalui Imajinasi, karena itu kita diberikan perangkat yang sama seperti Allah; bukankah kita serupa dengan Allah?! Imajinasi yang saya sampaikan disini bukanlah berkhayal, namun lebih seperti mimpi. Apabila kita bermimpi, maka kejadian itu tampak nyata, dan bukan hanya kejadian visul saja yang tampak nyata, namun perasaan kita juga ikut di dalamnya. Saya pernah bermimpi cukup menyeramkan, dalam mimpi itu saya perang dengan sosok iblis, dan saya mengusir iblis itu dengan suara cukup keras, sebelum dia pergi dari hadapan saya, dia sempat menggigit dada sebelah kiri saya, dan rasa sakit di kulit seperti bekas gigitan itu nyata sampai saya bangun dari tidur. Jadi IMAJINASI disini harus melibatkan perasaan, bahkan seluruh indera dalam tubuh kita juga turut merasakan bagaimana imajinasi itu saat menjadi kenyataan.
Yang menghalangi doa kita tidak dijawab adalah diri kita sendiri. Kita ragu apakah permohonan kita itu berkenan di hati Tuhan, bahkan kita ragu apakah kita betul-betul memerlukan apa yang kita doakan tersebut. Bila keempat langkah itu bisa kita aplikasikan, maka apapun yang kita minta dan doakan pasti terjadi dalam hidup kita.
Comments
Post a Comment