MISUNDERSTANDING WITH GOD - 6 - Mengapa Allah Harus Turun Menjadi Manusia
MENGAPA ALLAH HARUS TURUN MENJADI MANUSIA
Banyak orang berpikir bahwa tidak mungkin Allah menjadi manusia dalam rupa Yesus, bahkan orang Israel sendiri tidak mengakui bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, mereka tetap pada pendiriannya bahwa Yesus hanyalah manusia biasa, mungkin kalau mau disetarakan ya sama seperti Nabi-Nabi yang pernah diutus Allah. Tapi Yesus bukanlah Allah.
Di bab ini saya mencoba menyingkapkan mengenai siapa Yesus dan siapa manusia. Saya percaya bahwa setelah anda mambaca bab ini, anda mulai mengerti mengenai karya penyelamatan Allah atas manusia.
Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menghembuskan Nephesh – Roh Allah ke dalam manusia, sehingga terjadi kehidupan. Allah tidak pernah melakukan hal yang sama kepada ciptaan lainnya. Ketika Roh-Nya masuk dalam setiap sel kehidupan manusia, sebenarnya DNA Allah itu sudah ada di dalam diri manusia.
Saat seorang pria membuahi wanita, kemudian wanita itu mengandung dan melahirkan seorang bayi, maka bayi itu adalah kumpulan DNA dari pria dan wanita itu, itu kenapa dia disebut anak. Sama halnya dengan Allah dan manusia, ketika kita sebagai manusia mengandung DNA Allah, maka kita akan disebutkan anak Allah, bahkan Mazmur 82:6 “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” Bahasa asli yang digunakan untuk kata allah disini adalah Elohim.
Banyak orang merasa kesulitan mengartikan Mazmur 82:6 karena mereka konflik antara kepercayaan mereka bahwa manusia bukanlah allah, tapi ayat ini sempat dikutip Yesus di Yohanes 10:34.
Apa yang membuat manusia menjadi seperti Allah adalah:
- Allah telah menciptakan manusia menurut imajinasi Allah
- Allah telah menciptakan manusia serupa dengan Dia
- Allah telah menghembuskan Roh-Nya kepada manusia
Nah ketika kita sadar bahwa sebenarnya kita adalah “allah-allah”, maka kita pun harus menyadari bahwa tidak ada lagi ciptaan yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Ketika kita menjadi sama dengan Allah, Kejadian 3:22A “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat..”, maka sebenarnya manusia memiliki kemampuan Allah dalam dirinya.
Pertanyaan saya adalah “SIAPA YANG BISA MENYELAMATKAN allah?” selain dari allah itu sendiri.
Celakanya manusia tidak menyadari hal itu, atau bahkan menolak konsep Mazmur 82:6 dengan berbagai alasan dan teori.
Manusia seperti anak rajawali yang dipelihara oleh induk ayam, ketika dia melihat seekor rajawali terbang, dia sangat kagum dan berpikir, “Ah, seandainya aku bisa terbang seperti itu akan sangat menyenangkan.” Sementara induk ayam terus menanamkan pemikiran, “Kamu jangan mimpi, itu rajanya burung, sedangkan kamu hanyalah ayam!”
Jadi bagaimana membuat rajawali kecil itu menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah seekor Rajawali dan yang terbang itu adalah induknya?
Bahkan ketika sang induk melihat anaknya dan dia menyadari keadaan anaknya, dia tidak bisa membuat rajawali kecil itu terbang hanya dengan memerintahkan, atau mencengkeramnya dan dibawa terbang tinggi lalu dilepas, tidak bisa, bahkan anak itu bisa mati karena mindsetnya tetap sebagai ayam yang tidak bisa terbang.
Yang harus dilakukan oleh induk rajawali itu adalah membawa rajawali kecil itu berdiri di hadapan cermin dan memperlihatkan bagaimana bentuknya sama seperti induk rajawali itu, menerangkan bahwa dia bukanlah anak ayam, menerangkan bahwa dulu dia terjatuh dari sarang rajawali. Ya induk rajawali itu harus merubah pola pikir rajawali kecil itu sebelum mengajarkannya kebiasaan rajawali.
Itulah yang dilakukan Allah terhadap manusia.
Saya akan sedikit berbicara ilmu pikiran pada bab ini agar anda mengerti apa yang saya maksudkan dengan cerita diatas.
Dan saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini.
- Apa yang sebenarnya “DISELAMATKAN” Allah dari manusia?
- Mengapa Allah harus menjadi manusia untuk menjadi Mesias?
- Bagaimana peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu bisa menyelamatkan manusia sepanjang jaman?
- Bagaimana mereka yang menolak Kristus? Apakah mereka masih bisa diselamatkan, atau akan seperti Yohanes 14:6, Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
- Mengapa harus melalui Kristus?
Menurut doktrin yang telah kita terima selama ini, manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Bila kita mengacu pada awal penciptaan manusia, Allah mengambil debu tanah, kita harus memikirkan wujud daripada Adam ketika Allah berkata manusia itu serupa dengan Dia. Allah adalah Roh, dan ketika Dia menciptakan manusia menurut saya wujudnya adalah roh juga.
Bahasa Ibrani אֲדָמָה (haadam) yang diterjemahkan sebagai “tanah” berhubungan dengan אָדָם (adam). אָדָם (adam) bisa diterjemahkan sebagai pria, manusia, mahluk hidup dan juga sebagai simbol manusia pertama. Dan אֲדָמָה (haadam) dapat dikaitkan dengan bumi atau tanah, atau bisa juga “lahan, daerah atau negara. Dengan kata lain אָדָם (adam) dapat menunjukkan individu, dan אֲדָמָה (haadam) dapat menunjukan dunia dimana individu itu berasal, dan bukan debu tanah secara harafiah. Ini adalah bentuk manusia yang semula.
Pada saat manusia jatuh dalam dosa, Allah membuat pakaian bagi manusia itu. Di Alkitab saya dikatakan dari kulit binatang, entah dari mana bisa diterjemahkan kata binatang, karena dalam bahasa Ibrani kata yang digunakan adalah כתנת (kĕthoneth).
Kethoneth artinya pakaian dalam. Sedangkan kata “membuat” bahasa Ibraninya adalah עור (`owr), yang bisa diartikan sebagai kulit atau tubuh.
Jadi sebenarnya setelah Adam dan Hawa jatuh, Allah membungkus manusia roh itu dengan tubuh jasmani, dan sejak saat itulah bentuk manusia adalah roh, jiwa dan tubuh.
Setelah mengetahui mengenai roh, jiwa dan tubuh, sekarang kita akan lebih mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.
Bahwa yang diselamatkan Allah sebenarnya adalah manusia spiritual kita. Kalau kita bedah masing-masing, roh berasal dari nephesh Allah, sedangkan jiwa menurut bahasa yunani ψυχή psychē, artinya "kehidupan, roh, kesadaran", diambil dari arti kata “mendinginkan, meniup”, merujuk pada kata napas, berlawanan dari σῶμα ("soma"), yang berarti “tubuh”. Jadi berdasarkan definisi itu, dapat saya simpulkan bahwa jiwa merupakan kesadaran manusia secara utuh, dan jiwa tidak dapat dipisahkan dari Roh Allah, karena Roh Allah itu yang menghidupkan jiwa manusia. Sedangkan tubuh adalah rumah bagi jiwa selama kita hidup di dunia ini.
Dan fokus karya penyelamatan Allah bukanlah tubuh akan tetapi jiwa manusia, dan jiwa bersemayam di dalam pikiran manusia, dia yang mengendalikan seluruh kehidupan manusia. (Matius 18:8-9)
Ketika kita tahu bahwa Allah mau menyelamatkan jiwa, maka pintu masuk untuk itu adalah pikiran (pola pikir) kita. Ini menjawab pertanyaan mengapa Allah harus repot menjadi manusia:
1. Karena manusia diciptakan sebagai ciptaan tertinggi dan sama seperti Allah dan manusia itu adalah allah, meskipun manusia bukan Allah sehingga tidak bisa diperlakukan seperti robot.
2. Allah mau membangun hubungan yang harmonis dengan manusia berlandaskan cinta, bukan boss dan bawahan.
3. Satu-satunya yang bisa membawa manusia “kembali” pada-Nya adalah bila pola pikirnya benar.
Pertanyaan berikutnya akan saya bahas di bab selanjutnya, dimana saya akan menjelaskan berdasarkan disiplin ilmu yang pernah saya dapatkan mengenai cara bekerja otak dan pikiran manusia.
NEXT ---> Bagian 7
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god-7-pikiran.html
NEXT ---> Bagian 7
https://wandatauniya.blogspot.com/2020/05/misunderstanding-with-god-7-pikiran.html
Comments
Post a Comment